Rahmah
Kamis, 14 Januari 2016
penyebab anak sulit di kontrol
Mungkinkah mengetahui dan memastikan
apakah seorang anak itu bermasalah dalam waktu 5-10 menit pertama saat
kita bertemu dengannya? Jawabannya adalah mungkin dan pasti!.
Rahasia tersebut akan saya bahas
sekarang, rahasia yang sering saya gunakan untuk menganalisa seorang Apakah dia bermasalah, bahkan setelah mempelajarinya dengan
seksama kita mampu meramal masa depan seorang anak. Tenang ini bukan
obral janji, tetapi ini pasti. Dari hasil menangani berbagai kasus
keluarga dan individu maka terbentuklah suatu pola yang akurat ditiap
individu. Kebanyakan klien saya jika memiliki masalah, kebanyakan
masalah tersebut dan sebagian besar masalah itu berasal dari 2 hal. Ini
juga rahasia (rahasia dari ruang terapi saya), tetapi akan saya bongkar
habis.
Baiklah 2 hal tersebut berasal dari :
- Keluarga (keluarga yang membentuk masalah tersebut secara tidak sengaja).
- Masalah tersebut berasal dari usia 7 tahun kebawah.
Keluarga,
adalah faktor penting dalam pendidikan seorang anak. Karakter seorang
anak berasal dari keluarga. Dimana sebagian sampai usia 18 tahun
anak-anak di Indonesia menghabiskan waktunya 60-80% bersama keluarga.
Pada dasarnya manusia berbeda dengan binatang, seekor anak kucing yang
baru lahir bisa hidup jika dipisahkan dari induknya, dan banyak binatang
yang lain yang memiliki kemampuan serupa. Tetapi manusia tidak bisa,
sampai usia 18 tahun masih membutuhkan orangtua dan kehangatan dalam
keluarga. Sukses seorang manusia tidak lepas dari “kehangatan dalam
keluarga”. Akan sangat banyak hal yang akan dikupas dari tiap tahun
kehidupan manusia dan kebutuhannya serta cara memenuhi kebutuhan
tersebut, terutama aspek emosi. Saya tidak akan meneruskannya, kita akan
bahas di kesempatan lainnya, kini kita kembali ke cara mengetahui ciri
anak bermasalah.
Usia 7 tahun kebawah?
Ada apa pada usia ini? Pada masa ini kebanyakan (85%) letak masalah
atau asal muasal masalah atau hambatan seorang manusia tercipta. Istilah
kerennya Mental Block. Karakter yang
menghabat pencapaian cita-cita pribadi kita. Dan biasanya akan terasa
pada usia 22 tahun keatas. Ya Mental Block seperti program yang
seakan-akan dipersiapkan (karena ketidak sengajaan dan ketidak tahuan
orangtua kita) untuk menghambat berbagai macam aspek dalam kehidupan
kita. Aspek itu bisa berupa Karier (takut kaya, takut jabatan tinggi)
kesehatan (tubuh gemuk, alergi) Relationship (sulit cocok dengan
pasangan atau teman, paranoid) dan lain hal, serta masih banyak lagi.
Ada apa dengan 7 tahun kebawah dan
disekitar 7 tahun pertama kehidupan manusia? Baiklah saya jelaskan, pada
masa ini kita mempunyai kebutuhan dasar Emosi yang HARUS terpenuhi.
Jika pada masa ini lewat dan tidak terpenuhi maka, akan terjadi Mental
Block pada diri anak tersebut. Inilah asal muasal dimana Mental Block
terbentuk. Karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar Emosi yang
dibutuhkan seorang manusia. Kebutuhan apa yang dibutuhkan pada anak
seusia itu? Sehingga fatal akibatnya (pada masa dewasa anak tersebut)
jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi
Ada 3 kebutuhan yang harus dipenuhi
pada anak usia 0–7 tahun bahkan lebih, cara ini adalah kunci dalam
pendidikan karakter, agar karakter anak kita bisa tumbuh dan berkembang
maksimal. Disamping itu ketiga hal inilah asal muasal Mental Block yang
sering kali terjadi atau terasa sangat menganggu pada saat anak tersebut
dewasa. Yaitu :
1. Kebutuhan akan rasa aman
2. Kebutuhan untuk mengontrol
3. Kebutuhan untuk diterima
2. Kebutuhan untuk mengontrol
3. Kebutuhan untuk diterima
3 kebutuhan dasar emosi tersebut harus
terpenuhi agar anak kita menjadi pribadi yang handal dan memiliki
karakter yang kuat menghadapi hidup. Hal ini akan sangat panjang sekali
jika dijelaskan.
Sebenarnya ada 6 ciri karakter anak yang
bermasalah, cukup kita melihat dari perilakunya yang nampak, maka kita
sudah dapat melakukan deteksi dini terhadap “musibah besar” di kehidupan
yang akan datang (semakin dewasa) dan secepatnnya dapat melakukan
perbaikan. Inilah ciri-ciri karakter tersebut :
1. Susah diatur dan diajak kerja sama
Hal yang paling nampak adalah anak akan
membangkang, akan semaunya sendiri, mulai mengatur tidak mau ini dan
itu. Pada fase ini anak sangat ingin memegang kontrol. Mulai ada
“pemberontakan” dari dalam dirinya. Hal yang dapat kita lakukan adalah
memahaminya dan kita sebaiknya menanggapinya dengan kondisi emosi yang
tenang. Ingat akan kebutuhan dasar manusia? Tiga hal diatas yang telah
saya sebutkan, nah kebutuhan itu sedang dialami anak. Kita hanya bisa
mengarahkan dan mengawasi dengan seksama.
2. Kurang terbuka pada pada orangtua
Saat orangtua bertanya “Bagaimana
sekolahnya?” Anak menjawab “Biasa saja”, menjawab dengan malas, namun
anehnya pada temannya dia begitu terbuka. Aneh bukan? Ini adalah ciri ke
2, nah pada saat ini dapat dikatakan figur orangtua tergantikan dengan
pihak lain (teman ataupun ketua gang, pacar, dan lain-lain). Saat ini
terjadi kita sebagai orangtua hendaknya mawas diri dan mulai mengganti
pendekatan kita.
3. Menanggapi negatif
Saat anak mulai sering berkomentar
“Biarkan saja, dia memang jelek kok”, tanda harga diri anak yang
terluka. Harga diri yang rendah, salah satu cara untuk naik ke tempat
yang lebih tinggi adalah mencari pijakan, sama saat harga diri kita
rendah maka cara paling mudah untuk menaikkan harga diri kita adalah
dengan mencela orang lain. Dan anak pun sudah terlatih melakukan itu,
berhati-hatilah terhadap hal ini. Harga diri adalah kunci sukses di masa
depan anak.
4. Menarik diri
Saat anak terbiasa dan sering
menyendiri, asyik dengan dunianya sendiri, dia tidak ingin orang lain
tahu tentang dirinya (menarik diri). Pada kondisi ini kita sebagai
orangtua sebaiknya segera melakukan upaya pendekatan yang berbeda.
Setiap manusia ingin dimengerti, bagaimana cara mengerti kondisi seorang
anak? Kembali ke 3 hal yang telah saya jelaskan. Pada kondisi ini
biasanya anak merasa ingin diterima apa adanya, dimengerti –
semengertinya dan sedalam-dalamnya.
5. Menolak kenyataan
Pernah mendengar quote seperti “Aku ini
bukan orang pintar, aku ini bodoh”, atau “Aku tidak bisa, aku ini
tolol”. Ini hampir sama dengan nomor 4, yaitu kasus harga diri. Dan
biasanya kasus ini (menolak kenyataan) berasal dari proses disiplin yang
salah. Contoh, “Masa begitu saja tidak bisa sih, kan mama sudah beri
contoh berulang-ulang”.
6. Menjadi pelawak
Suatu kejadian di sekolah ketika
teman-temannya tertawa karena ulahnya dan anak tersebut merasa senang.
Jika ini sesekali mungkin tidak masalah, tetapi jika berulang-ulang dia
tidak mau kembali ke tempat duduk dan mencari-cari kesempatan untuk
mencari pengakuan dan penerimaan dari teman-temannya maka kita sebagai
orangtua harap waspada. Karena anak tersebut tidak mendapatkan rasa
diterima di rumah, kemanakah orangtua?
jadi dimana sebenarnya peran orang tua itu lebih penting, dan jangan menuntut anak terlalu berlebih, hargai setiap hasilnya, jangan sering menjatuhkan anak dihadapan orang lain karena sesungguhnya anak diumur 7 tahun masih mengharapkan perlindungan orang tua, jika dia merasa dilindungi ia akan lebih mudah terbuka kepada orang tuanya dibandingkan orang tua yang selalu menyalahkan nya , itu malah membuat anak jadi malas untuk bercerita karena tidak ada nya rasa dihargai dari orangtua tersebut.
hargailah setiap apa yang dimiliki oleh anak, hargai setiap karya-karyanya, dan jangan meremehkan, kalaupun tidak benar berilah masukan yang menndukung. jangan menjatuhkan anak dihadapan orang banyak itu sama saja kita menunjukan kita tidak sependapat dengannya. tuntun lah anak kita dengan bijak, jangan sering memarahinya, itu tidak akan membuatnya jera, malah sebaliknya.
Langganan:
Komentar (Atom)
